1“Kita sudah terlalu jauh untuk mundur,” jawab Kane.

"Sepertinya alat kyuzer yang terpasang di luar gua membuat mereka terkurung dan berkembang biak di tempat ini." Kata Freya.

Freya melanjutkan. "Batu-batuan mineral disini memberikan sedikit cahaya sehingga sangat ideal untuk mereka tinggal."

"Lalu bagaimana mereka mendapatkan makanan?" Tanya Lyra.

Freya hanya menggelengkan kepala karena tidak mengetahui jawabannya. Mereka akhirnya tiba di sebuah ruang besar di dalam gua. Pada dinding gua terdapat batu-batuan yang terlihat memancarkan cahaya sehingga suasana didalam gua terlihat samar. Batu-batuan tersebut semakin bercahaya saat memantulkan sinar yang keluar dari alat penerangan yang di bawa oleh Kane. Di tengah ruangan itu terdapat sisa jasad seorang pria yang sebagian besar tulangnya masih terlilit jaring laba-laba, tubuhnya sisa tulang belulang tetapi masih mengenakan sisa pakaian yang tidak biasa untuk dunia ini.

“Itu Milo,” kata Leena dengan nada sedih.

Kane memandang dari kejauhan, memperhatikan jasad itu dengan seksama. Pakaian Milo memang terlihat modern, cocok dengan deskripsi yang dia dapatkan. Kane berusaha memperhatikan apakah ada benda di sekitarnya yang mencurigakan namun tidak menemukan apa-apa.

“Dia memang Milo, deskripsinya cocok dengan yang diberikan saat kita menerima tugas,” gumam Kane, wajahnya berubah serius.

“Jadi dia sudah mati,” kata Valen sambil menghela napas.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Darius bingung karena merasa misi mereka telah gagal dan harapan mereka untuk bisa keluar dari dunia ini jadi semakin kecil.

Kane memandang Leena dengan tajam. “Apa ada rahasia yang kamu sembunyikan dari kami? Darimana kamu mengetahui bahwa jasad itu bernama Milo?”

Leena menggeleng. “Aku menemukan jasadnya secara tidak sengaja saat aku tertangkap oleh salah satu laba-laba. Saat itu kami hanya menemukan sebuah catatan pendek bertuliskan kata 'Milo'.”

“Kau masih menyembunyikan sesuatu,” tuduh Kane. “Aku bisa merasakannya. Tunjukkan catatan itu!” Perintah Kane dengan marah.

“Aku tidak tahu apa lagi yang kau inginkan dariku! Catatan itu sudah hilang saat kami melarikan diri dari sini. Catatan itu tidak berguna bagi kami,” balas Leena, berusaha menyembunyikan rahasia mengenai kotak yang mereka temukan dan disembunyikan di gua tempat mereka tinggal saat pertama kali di pulau ini. Leena sengaja meninggalkannya dan hanya membawa pil karena menganggap benda itu tidak berguna, mereka tidak memahami maksud catatan itu.

Sebelum Kane bisa berkata lebih jauh, suara gemerisik keras terdengar dari dinding gua bagian atas. Dari sisi dinding gua, terlihat samar banyak bayangan bergerak menuju ke arah mereka. Semua orang langsung bersiaga, mengarahkan senjata mereka ke arah suara itu.

“Makhluk-makhluk laba-laba itu datang,” bisik Freya.

"Cahaya yang kita bawa menarik perhatian mereka. Tapi kita tidak bisa mematikannya karena berbahaya di kegelapan." Kata Valen. “Kita harus keluar dari sini sekarang,” lanjutnya.

Namun, Kane tidak bergerak. Dia masih memandang jasad Milo dengan mata penuh kekecewaan dan kemarahan.

“Ambil jasadnya,” perintah Kane. “Kita tidak datang sejauh ini untuk kembali dengan tangan kosong.”

Valen memandang jasad itu dari jauh. "Komandan, kalau kita ingin membawa jasadnya, kita harus melewati mereka dulu." Dia menunjuk ke atas, ke arah bayangan yang bergerak cepat di langit-langit gua.

"Kita harus membawa bukti agar misi kita tidak gagal seluruhnya.!" Bentak Kane.

Valen dan Darius saling bertukar pandang, jarak mereka terlalu jauh dengan jasad Milo dan terlalu berbahaya, tetapi mereka tidak bisa menolak perintah. Namun, sebelum mereka bisa melakukannya, segerombolan laba-laba mutasi muncul dari kegelapan, menyerang mereka dengan cepat.

Tiba-tiba, dari sudut gelap ruangan, seekor laba-laba raksasa melompat ke arah mereka, cairan lengket keluar dari mulutnya. Freya dengan cepat menembakkan senjatanya, laser biru menghantam makhluk itu dan membakarnya hingga berasap. Makhluk itu meraung, tubuhnya jatuh berguling-guling sebelum akhirnya diam.

“Bertarung!” teriak Kane sambil mengangkat senjatanya saat melihat makhluk-makhluk itu berdatangan.

Pertarungan sengit terjadi di dalam gua gelap itu, dengan cahaya lentera yang redup menjadi satu-satunya penerangan. Namun, makhluk-makhluk itu terus berdatangan tanpa henti, memaksa rombongan Kane untuk melarikan diri tanpa membawa jasad Milo.

Dari atas dan sekeliling, makhluk-makhluk laba-laba mulai muncul, mengeluarkan suara gemerisik yang memekakkan telinga. Mereka menyerang dari berbagai arah, melompat ke rombongan dengan kecepatan yang mengerikan.

“Keluar dari sini sekarang!” perintah Kane dengan penuh kemarahan.

Namun, dari arah berlawanan, suara gemerisik mulai terdengar dari kegelapan. Valen mengangkat senjatanya, mata waspada. “Mereka mengurung kita.”

Dari arah berlawanan dengan sarang laba-laba, makhluk laba-laba besar muncul, jumlahnya lima, dengan kaki panjang yang berduri dan mulut mengeluarkan cairan lengket.

“Tembak terus mereka!” perintah Kane.

Laser dari senjata mereka menyalak, menghantam makhluk-makhluk itu satu per satu. Dua makhluk jatuh, tubuh mereka terbakar karena energi panas senjata laser. Namun, tiga makhluk lainnya menyerang dengan lebih ganas, membuat pasukan Kane terpaksa mundur ke lorong sempit.

“Kita dikelilingi!” teriak Lyra. “Mereka menyerang dari semua sisi!”

Kane maju ke depan, menggunakan senjata lasernya untuk membunuh makhluk yang mencoba menyerangnya. "Jangan berhenti! Lanjutkan menembak!"

Salah satu anak buah Kane, Darius, melemparkan bom fragment ke tengah kelompok laba-laba yang menghalangi jalan keluar mereka. Ledakan keras menggema, menghancurkan dua makhluk sekaligus. Namun, dinding gua mulai bergetar keras, serpihan batu jatuh dari atas.

“Kau idiot!” teriak Kane dengan marah. “Jangan gunakan bom lagi! Kita bisa terkubur di sini!”

Darius tampak bersalah, tetapi tidak sempat menjawab karena makhluk-makhluk laba-laba lainnya terus menyerang.

Senjata laser terus menyala, memancarkan sinar terang yang menghantam makhluk-makhluk itu. Salah satu laba-laba jatuh, tubuhnya meledak karena panas laser. Tapi jumlah mereka terlalu banyak.

“Komandan, ini terlalu banyak!” teriak Valen, menembak satu laba-laba yang mendekat.

Freya berteriak dari belakang, “Energi senjata kita hampir habis! Mesin utama kita mati, dan kita hanya menggunakan tenaga cadangan!”

“Bertahan sebisa mungkin!” balas Kane sambil membunuh satu laba-laba tersisa yang menghalangi jalan keluar mereka.

Mereka terus menembak makhluk-makhluk yang mengejar, tetapi jumlahnya tampak tidak berkurang. Laba-laba itu bergerak dengan cepat dan menyerang dari segala arah, memanfaatkan lorong sempit untuk membuat pasukan Kane kesulitan bergerak.

"Cepat, kita harus segera keluar dari tempat ini." Teriak Kane sambil menembak salah satu laba-laba yang melompat dari atas dinding.

"Arghh...!" Teriak Lyra. "Tolong..."

Lyra yang bergerak paling belakang terkena tembakan jaring dan tubuhnya ditarik menuju ke arah sarang laba-laba. Suara teriakannya menggema di dalam gua.

Leena yang melihat situasi ini mencoba membantu. Dia mengambil senjata di dekatnya milik Lyra yang gugur, tetapi dia tidak bisa menggunakannya. Tombol-tombolnya terlalu asing baginya.

“Apa yang kau lakukan?” teriak Freya, melihat Leena menekan-nekan tombol sembarangan."Senjata itu bisa meledak jika kamu salah menekannya." Bentak Freya.

Leena merasa kaget dengan kata-kata Freya. Dia memutuskan berhenti mencoba menembak dengan senjata itu dan menggunakan senjata itu sebagai alat pemukul. Dengan keberanian yang tersisa, dia menghantamkan senjata itu ke kepala laba-laba yang mendekat, membuatnya mundur sesaat sebelum menyerang lagi.

Valen yang berada di belakang tiba-tiba dikepung. “Bantu aku!” teriaknya, tetapi laba-laba itu menyerangnya dari segala sisi. Valen berusaha menembak laba-laba yang semakin banyak menyerangnya. Jeritannya menggema di dalam gua sebelum tubuhnya ditarik ke kegelapan.

“Valen!” teriak Freya, tetapi dia tidak sempat bergerak karena seekor laba-laba menyerangnya dari depan.

Darius juga berteriak saat laba-laba lain menyeretnya ke atas, menjebaknya di jaring yang tergantung di langit-langit gua.“Kane, kita kehilangan Valen, Lyra dan Darius,” lapor Freya dengan nada muram.

Kane memukul dinding dengan marah. “Sial! Ini semua salahmu!” teriaknya sambil menunjuk Leena.

Leena membeku, tubuhnya gemetar karena ketakutan. “Aku sudah bilang ini berbahaya…” gumamnya dengan sorot mata menahan marah.

“Diam!” bentak Kane. Dia mengarahkan senjata lasernya ke kepala Leena. “Aku seharusnya tidak membawamu ke sini! Kau hanya membawa bencana untuk kami!”

“Kane, jangan!” teriak Freya.

Namun, sebelum Kane menarik pelatuknya, sebuah bayangan melesat dari kegelapan.
